Welcome

Ass wr wb, Selamat Datang Di Blog Ilmu Farmasi, Semoga Artikelnya Bermanfaat, Terimakasih Atas Kunjungannya

1-15 Artikel terbaru

Skrining Fitokimia

Ilmu Farmasi : Artikel ini terkait skrining fitokimia adalah, 
Senyawa fenol, senyawa terpenoid, senyawa nitrogen, Reaksi positif palsu, reaksi negatif palsu

Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti.
Metode yang digunakan dalam skrining fitokimia harus memiliki persyaratan :
  • metodenya sederhana dan cepat
  • peralatan yang digunakan sesedikit mungkin
  • selektif dalam mengidentifikasi senyawa-senyawa tertentu
  • dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan senyawa tertentu dalam kelompok senyawa yang diteliti.
Golongan senyawa kimia dapat ditentukan dengan cara:
  • uji warna
  • penentuan kelarutan
  • bilangan Rf
  • ciri spektrum UV
  • namun secara umum penentuan golongan senyawa kimia dilakukan denga cara uji warna dengan menggunakan pereaksi yang spesifik karena dirasakan lebih sederhana.
Senyawa kimia berdasarkan asal biosintesis, sifat kelarutan, gugus fungsi digolongkan menjadi :
  • Senyawa fenol, bersifat hidrofil, biosintesisnya berasal dari asam shikimat
  • terpenoid, berasal dari lipid, biosintesisnya berasal dari isopentenil pirofosfat
  • asam organik, lipid dan sejenisnya, biosintesisnya berasal dari asetat
  • senyawa nitrogen, bersifat basa dan bereaksi positif terhadap ninhidrin atau dragendorf
  • gula dan turunannya
  • makromolekul, umumnya memiliki bobot molekul yang tinggi
Sedangkan berdasarkan biogenesisnya senyawa bahan alam dikelompokkan menjadi :
  • Asetogenin : flavonoid, lipid, lignan, dan kuinon
  • karbohidra : monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida
  • isoprenoid : tepenoid, steroid, karotenoid
  • senyawa mengandung nitrogen : alkaloid, asam amino, protein, dan nukleat
Dari semua kelompok senyawa, skrining fitokimia umumnya hanya dilakukan terhadap kelompok senyawa fenol, terpenoid, dan senyawa nitrogen.
1. senyawa fenol
Senyawa fenol ditandai dengan struktur cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. cendrung mudah larut dalam air, contoh senyawa : polifenol, flavonoid, tanin dan quinon
2. senyawa terpenoid
terpenoid  tersusun dari molekul unit isoprena (C5), digolongkan berdasarkan jumlah isoprena dari senyawa tersebut, seperti: monoterpen, dua isopren (C10), tiga isopren (C15), empat (C20), C25, C30, C35, C40 :
  • monoterpen (C10) dan seskuiterpen (C15) : mudah menguap, komponen minyak atsiri
  • diterpen (C20) : lebih sukar menguap
  • triterpen (C30) : sterol dan saponin (senyawa yang tidak menguap)
  • pigmen karetonoid : tetraterpenoid (C40)
3. senyawa nitrogen
senyawa nitrogen yang ada pada tumbuhan seperti : asam amino, amina, alkaloid, glikosida, sianogen, porfirin, purin, piridin, sitokinin dan klorofil (pigmen porifirin), tetapai kelah terbesar dari senyawa nitrogen adalah alkaloid.

Masalah pada skrining fitokimia biasanya adalah kesalahan menafsirkan hasil analisis pengujian/skrining, seperti :
  • reaksi positif palsu adalah hasil pengujian menyatakan ada (positif), tapi sebenarnya tidak ada (negatif), hal ini bisa disebabkan kesalahan alat, atau pengaruh senyawa yang memiliki kesamaan sifat maupun struktur atom yang identik
  • reaksi negatif palsu adalah hasil pengujian menyatakan tidak ada (negatif), tapi sebenarnya ada (positif), hal ini bisa disebabkan kurang sensitifnya alat, atau karena kadar didalam bahan uji terlalu sedikit, atau bahan ujinya (ekstrak simplisia) tidak memenuhi syarat, oleh karena itu senyawa yang tadinya ada hilang/rusak karna reaksi enzimatik maupun hidrolisis.

Disadur dari farmasi Unisba

1 comment:

Fathiah Olpah Siara said...

daftar pustakanya mana ya ???

Blog Archive