Welcome

Assalamu'alaikum, Selamat Datang Di Blog Ilmu Farmasi, Semoga Artikelnya Bermanfaat, Terimakasih Atas Kunjungannya

Sarana dan Prasarana Apotek

     
       Apotek saat ini berkonsep terbuka sehingga pasien dapat melihat secara langsung apa yang sedang dikerjakan oleh para pegawai apotek. Apotek umumnya terdiri dari beberapa ruangan, misalnya:
a.       Ruang tunggu
Apotek memiliki dua pintu utama, satu pada bagian depan dan satu pada bagian samping. Ruang tunggu terdapat di bagian depan dan bagian samping pintu masuk. Ruangan ini dilengkapi dengan berberapa baris bangku sebagai tempat duduk untuk menunggu, televisi dan Air Conditioner (AC) sehingga memberikan kenyamanan bagi pasien yang menunggu.

Pelayanan Obat dan Resep di Apotek

Ilmu Farmasi : tata cara pelayanan obat dan resep, pelayanan 
pembelian obat tunai, kredit dsb
a.       Penjualan obat
1.Penjualan obat tunai : Penjualan obat tunai meliputi:
a)      Penjualan obat resep tunai
Penjualan obat dengan resep tunai dilakukan terhadap pasien yang langsung datang ke apotek untuk menebus obat yang dibutuhkan dan dibayar secara tunai adalah sebagai berikut :

Pengelolaan Obat di Apotek

                  Ilmu farmasi : Pengelolaan Apotek ; Pengadaan, pemesanan, penerimaan, penyimpanan, pelayanan, pelaporan, pemusnahan obat obatan
                  1.   Pengelolaan Apotek
a.       Pengadaan
      Pengadaan barang baik obat-obatan dan perbekalan farmasi lainnya dilakukan oleh karyawan dibidang perencanaan dan pengadaan dalam hal ini dilakukan oleh asisten apoteker yang bertanggung jawab kepada Apoteker Pengelola Apotek. Pengadaan barang dilakukan berdasarkan data yang tercatat pada buku defekta dan perkiraan kebutuhan konsumen dengan arahan dan kendali APA. Kebutuhan barang tersebut dimasukkan pada surat pemesanan barang.

Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek

           Pengelolaan dan pengendalian Narkotika dan Psikotropika, pemesanan, penerimaan, penyimpanan, pelayanan, pelaporan, dan pemusnahan narkotika dan psikotropika
1. Pengelolaan Narkotika

Pengelolaan narkotika diatur secara khusus untuk menghindari terjadinya kemungkinan penyalahgunaan obat tersebut. Pelaksanaan pengelolaan narkotika di Apotek meliputi :
a.       Pemesanan Narkotika
Pemesanan sediaan narkotika menggunakan Surat Pesanan Narkotik yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Pemesanan dilakukan ke PT. Kimia Farma Trade and

Sistem Pengolahan Limbah Industri Farmasi

Ilmu Farmasi : Sistem Pengolahan Limbah di Industri Farmasi
Limbah yang dihasilkan industri dibagi 4 macam, yaitu limbah padat, limbah cair, cemaran debu/gas (Betalaktam dan non Betalaktam) serta limbah bakteri. Pengolahan limbah Industri dilakukan sebagai berikut :

Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)

Ilmu Farmasi : Tugas dan fungsi divisi atau departemen
Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)
1.        Keselamatan kesehatan kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan kebutuhan setiap tenaga kerja. Pimpinan setempat bertanggungjawab atas pelaksanaan usaha keselamatan dan kesehatan kerja dilingkungan masing-masing. Untuk dapat melaksanakan K3 dan perlindungan lingkungan perusahaan melakukan pencegahan kecelakaan kerja, memenuhi dan mentaati peraturan

Research and Development (RnD)

Ilmu Farmasi : Tugas dan Fungsi bagian, departemen Research and Development (RnD), 
Penelitian dan pengembangan produk di industri farmasi
Bagian Penelitian dan pengembangan produk di industri farmasi merupakan departemen atau divisi yang bertugas dalam melakukan penelitian pencarian obat baru/bahan obat baru, pengembangan formula obat, pengembangan kemasan, maupun modifikasi aspek teknis lainnya serta mengurus registrasi/ijin edar produk obat dll. Latar belakang pengembangan produk sebagai peningkatan

Quality Assurance (QA)

Ilmu Farmasi : Tugas dan Fungsi Pemastian Mutu atau 
Penjamin mutu atau Quality Assurance (QA)

QA  dipimpin oleh seorang Manajer yang dibantu oleh Asisten manajer dan lima orang Supervisor (Spv.), yaitu Spv. Kalibrasi, Kualifikasi, dan Validasi; Spv. Inspeksi diri dan Audit; Spv. Stabilitas; Spv. Pengendalian dokumen; Spv. Dokumentasi, regulasi dan Penanganan Keluhan Pelanggan. Tujuan dari pemastian mutu adalah untuk memastikan mutu produk sesuai tujuan penggunaan, produk bermutu konsisten, khasiat, keamanan mulai dari in put, process sampai out put produk jadi.

Pengawasan Mutu (QC)

Ilmu Farmasi : Tugas dan fungsi Pengawasan Mutu (QC) atau Quality Control (QC) 
di industri farmasi
Bagian Pengawasan mutu dipimpin oleh seorang Asisten Manajer yang membawahi enam supervisor, yaitu: Spv. Pemeriksaan Bahan Baku, Spv. Pemeriksaan Bahan Pengemas, Pemeriksaan Produk Antara dan Ruahan, Pemeriksaan Mikrobiologi dan Limbah, Pemeriksaan Produk Jadi, Pengawasan Proses Produksi.
1.         Pemeriksaan bahan baku
Supervisor pemeriksaan bahan baku mengawasi kegiatan sampling, pengambilan sampel diambil

Departemen Produksi di Industri Farmasi

Ilmu Farmasi : tugas dan  fungsi bagian divisi departemen produksi obat, 
bahan obat, kosmetika di industri farmasi
Bagian produksi dipimpin oleh seorang Manajer Produksi yang membawahi 4 Asisten Manajer yaitu Produksi I, Produksi II, Produksi III dan Pengemasan. Alur proses produksi pada pada tiap bagian produksi ini dimulai dari Bagian PPPI memberikan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada masing-masing bagian produksi untuk produksi, yang disertai dengan Bon Penyerahan Bahan Baku (BPBB),

Perencanaan Pengendalian Produksi dan Inventori (PPPI) atau PPIC

Ilmu Farmasi : Apa itu, tugas, fungsi, kewenangan, ruang lingkup
Perencanaan, Pengendalian Produksi dan Inventori (PPPI) 
atau disebut juga Product Planning and Inventory Control (PPIC), 
bagaimana penerimaan barang, karantina, penyimpanan dan pendistribusian 
di industri farmasi
1.         Struktur organisasi
PPPI dipimpin oleh seorang manager yang membawahi bagian Perencanaan, Pengendalian Bahan dan Proses Produksi, dan Penyimpanan, dibantu oleh beberapa supervisor. Lingkup Asisten Manajer Perencanaan dan Pengendalian ada tiga, yaitu Perencanaan bahan dan proses produksi, Pengendalian bahan dan proses produksi serta evaluasi data hingga pelaporan dari masing-masing bagian oleh supervisor.
2.         Fungsi PPPI
a.         Melakukan evaluasi dan konfirmasi pesanan dari Marketing, PPPI akan mengadakan perencanaan bahan dan proses produksi sesuai pesanan dari bagian marketing tiap periode

Ampisilin

Ilmu Farmasi : Ampisilin, Mekanisme kerja, Farmakokinetik, 
Farmakodinamik, khasiat, sediaan

Indikasi :
Infeksi gram positif dan negatif pada saluran nafas, saluran cerna, saluran kemih.
Kontra Indikasi :
Hipersensitivitas.

Tetrasiklin

Ilmu Farmasi : Tetrasiklin, Efek, Mekanisme kerja, Farmakokinetik, 
Farmakodinamik, khasiat, sediaan

Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita tentang Tetrasiklin yang dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin merupakan antibiotika yang memberi harapan dan sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting.Antibiotika golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalahKlortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan Oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari Klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari spesies Streptomyces lain.

1.      Mekanisme Kerja Tetrasiklin

Golongan Tetrasiklin termasuk antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman.

Kloramfenikol

Ilmu Farmasi : Kloramfenikol, Efek, Mekanisme kerja, Farmakokinetik, 
Farmakodinamik, khasiat, sediaan
Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.
  1. Efek antimikroba
Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida

Laporan Praktikum Tablet Kempa Langsung

Ilmu Farmasi :Laporan Praktikum Tablet Kempa Langsung
I.          Kekuatan Sediaan
·         ASKORBIN; Kimia Farma; B; Skorbut, difesiensi Vit.C; Tablet; 500 mg.
·         VITACIMIN; Takeda; B; Defisiensi Vit.C; Tablet; 500 mg.
·         SWEETA C; Combiphar; B; Kekurangan Vit.C; Tablet; 500 mg.

II.        Preformulasi Zat Aktif
1.       Vitamin C

Laporan Praktikum Isolasi Hespiridin Dari Kulit Buah Jeruk (Citrus aurantufolia)

Ilmu Farmasi : Laporan Praktikum Isolasi Hespiridin Dari Kulit Buah Jeruk
Tujuan percobaan
Mahasiswa di harapkan dapat melakukan isolasi salah satu senyawa flafonoid (Hespiridin) dari kulit buah jeruk.

Teori Dasar
Hesperidin merupakan senyawa golongan flavonaid yang banyak terdapat dalam kulit buah jeruk.Flavonoid salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/aleopati yang terdapat pada kulit buah jeruk manis,ini merupakan persenyawaan glukosa yang terdiri dari gula yang terikat dengan flavon.
Golongan flavonoid dapat di golongkan sebagai deret senyawa C6-C3-C6,artinya kerangka

Laporan Praktikum Kristalisasi, Sublimasi Dan Penentuan Titik Leleh

Ilmu Farmasi : Laporan Praktikum kristalisasi,sublimasi 
dan penentuan titik leleh


-          Tujuan Percobaan
Pada akhir percobaan ini mahasiswa di harapkan dapat memahami konsep dan metode pemurnian zat padat yaitu kristalisasi dan sublimasi.
-          Termpil Dalam:
Melakukan kristalisasi dengan baik

Laporan Praktikum Supositoria

Ilmu Farmasi : Laporan Praktikum, Bahan Makalah Supositoria
1.      Nama Sediaan
      Supositoria
2.      Kekuatan Sediaan
Sediaan dipasaran bermerk ‘’Dulcolax’’ boehringer Lngelheim : obat bebas terbatas (T), komposisi Bisakodil 10 mg/supositoria :5 mg untuk anak-anak.
(Sumber : Informasi spesialite obat indonesia Vol 40 Hal.376)
3.      Preformulasi Zat Aktif
·         Bisakodil
Pemerian : Serbuk hablur,putih atau hampir putih tidak berbau dan tidak berasa

Laporan Praktikum Emulsi

Ilmu Farmasi : Laporan Praktikum Emulsi
       I.            Tujuan
a.       Dapat menentukan tipe emulsi
b.      Mengetahui teknik pembuatan emulsi
    II.            Data Preformulasi
A.       Zat aktif
Parafin cair
a.       Warna                          : tidak berwarna dan transparan

Laporan Praktikum Isolasi, Identifikasi Dan Konfirmasi Mikroba

Ilmu Farmasi : Laporan Praktikum Isolasi, Identifikasi Dan Konfirmasi Mikroba


       I.            TUJUAN
-          Dapat memahami prinsip isolasi, identifikasi dan konfirmasi mikroba, serta dapat melakukannya dengan baik.

    II.            TEORI DASAR
Mikroorganisme ada dimana-mana. Mereka dapat ditemukan di tanah, udara, air,
makanan, limbah, bahkan di permukaan tubuh. Singkatnya, setiap area dari lingkungankitapenuh dengan mikroba.Ilmu mikrobiologi memisahkan populasi yang beraneka ragam tersebut menjadi spesies induvidu yang dapat dipelajari (Cappucino, 1983).
Berbagai macam mikroorganisme dapat ditemukan di alam dalam populasi yang
heterogen.Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan.Prinsip dari isolasi mikroba adalah
memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran
bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutedjo,
1996).
Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tempat yang terpisah, maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya (Sutedjo, 1996).
Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba sulit dipisahkan secara individu karena
terlalu kecil dan tidak tetap tinggal di tempatnya. Akan tetapi bila sel-sel itu dipisahkan
dengan cara pengenceran, kemudian ditumbuhkan dalam media padat dan dibiarkan
membentuk koloni, maka sel-sel tersebut selanjutnya dapat diisolasi dalam tabung-tabung reaksi atau cawan petri-cawan petri yang terpisah (Sutedjo, 1996).
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mengisolasi bakteri adalah sebagai berikut :

1.      Sifat dan jenis mikroorganisme
2.      Habitat mikroorganisme
3.      Medium pertumbuhan
4.      Cara menginokulasi dan inkubasi
5.      Cara mengidentifikasi bakteri
6.      Cara pemeliharaannya (Dwidjoseputro, 1998)

Ada bermacam-macam metode isolasi yang dapat digunakan. Macam-macam metodeisolasi tersebut antara lain :
1)      Isolasi Tunggal
Merupakan metode isolasi dengan cara meneteskan bahan yang mengandung mikroorganisme pada suatu kaca penutup dengan menggunakan mikropipet, yang kemudian diteliti dibawah obyektif mikroskop.
2)      Isolasi Gores
Merupakan metode isolasi dengan cara menggeser atau menggoreskan ujung jarum ose yang telah mengandung mikroorganisme dengan hati-hati di atas permukaan agar secara zig zag yang dimulai dari dasar tabung menuju ke bagian atas tabung.
3)      Isolasi Tebar
Merupakan metode isolasi dengan cara menebarkan bahan yang mengandung mikroorganisme pada permukaan atas tabung
4)      Isolasi Tuang
Merupakan metode isolasi dengan cara mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang telah diencerkan dan sampel tersebut kemudian disebarkan didalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer (Dwidjoseputro, 1998).

Oleh Nuniek, 2001 isolasi mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara penggoresan dan cara penaburan.

a.       Isolasi Mikroba dengan Cara Penggoresan
Tujuan utama dari penggoresan ini adalah untuk menghasilkan koloni-koloni bakteri yang terpisah dengan baik dari suspensi sel yang pekat.Cara ini lebih menguntungkan bila ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tapi memerlukan ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Ada beberapa teknik goresan, diantaranya adalah :
-          Goresan T
-          Goresan Kuadran
-          Goresan Radian
-          Goresan Sinambung (Nuniek, 2001)

b.      Isolasi Mikroba dengan Cara Penaburan
Cara penaburan (pour plate) merupakan cara yang kedua di samping penggoresan untuk memperoleh biakan murni dari biakan campuran mikroba. Cara ini berbeda dari cara penggoresan dimana media agar diinokulasi dalam keadaan tetap cair yaitu pada suhu 450C, dan demikian pula koloni-koloni akan berkembang di seluruh media, tidak hanya pada permukaan. Untuk beberapa tujuan hal ini menguntungkan, contohnya dalam mempelajari pertumbuhan  kololoniStreptococcal pada sel-sel darah merah.
Distribusi koloni-koloni lebih baik juga diperoleh dalam cawan penaburan yang dibuat dengan baik, dan isolasi akan lebih mudah dibuat. Supaya koloni tumbuh dalam cawan tidak terlalu banyak ataupun sedikit maka contoh diencerkan hingga beberapa kali pengenceran dan ditaburkan pada beberapa cawan. (Nuniek, 2001)

Karakteristik koloni bakteri hasil inokulasi merupakan salah satu bagian dalam identifikasi bakteri. Beberapa bentuk koloni spesifik koloni bakteri pada media agar datar yaitu (Sutedjo, 1996) :
-          Ukuran
·         Titik
·         Kecil
·         Sedang
·         Besar

-          Warna Koloni
Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan tidak kontras dengan air, di mana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Oleh karena itu pengamatan tanpa pewarnaan menjadi lebih sukar dan tidak dapat  digunakan untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti.

-          Bentuk Koloni
·         Bundar
·         Tidak beraturan
·         Rhizoid (tersebar seperti akar)

-          Bentuk Bagian Tepi Koloni (margin)
·         Rata (entire)
·         Tidak rata, bergelombang secara beraturan (lobate)
·         Bergelombang (undulate)
·         Bergerigi (sellate)
·         Seperti filamen (filamentous)

Media Spesifik(selective medium) /media penghambat adalah media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu, dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negatif. Media ini selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline Salt Broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.
Media ini dipakai untuk menyeleksi mikrorganisme sesuai dengan yang diinginkan, jadi hanya satu jenis mikrorganisme saja yang dapat tumbuh dalam media ini atau hanya satu kelompok tertentu saja.


Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam membuat media adalah :
a)      Mencuci tangan sebelum praktikum
b)      Menggunakan jas lab dan sarung tangan yang steril
c)      Sebelum dan sesudah praktikum meja kerja dan tangan disemprotkan alkohol 70%.
d)     Menggunakan alat dan bahan yang sudah disterilkan
e)      Tidak banyak bercanda dan berbicara saat praktikum berlangsung.
f)       Menggunakan masker

Pada percobaan 3 “Isolasi, Identifikasi dan Konfirmasi Mikroba” menggunakan beberapa media, diantaranya adalah sebagai berikut ;

-          Mac Conkey Agar
Media selektif untuk isolasi dan identifikasi bakteri Gram negatif terutama bakteri yang berasal dari tinja dan urin. Disimpan pada suhu +15°C hingga +25°C, pH 6.9 - 7.4 dan termasuk media padat. Media ini mengandung garam empedu dan pewarna kristal violet, yang menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan menseleksi bakteri gram negatif. Media ini juga berisi karbohidrat laktosa, yang memungkinkan pembedaan bakteri gram negatif berdasarkan pada kemampuan mereka untuk memfermentasi laktosa.Organisme yang memfermentasi laktosa menghasilkan produk akhir asam yang bereaksi dengan indikator pH merah netral dan menghasilkan warna merah muda.

-          Vogel Jonson Agar
Vogel Johnson Agar mengandung mannitol, tellurite dan lithium chloride yang berperan untuk mengisolasi bakteri yang bersifat koagulase positip, karena semua yang bersifat koagulase positip akan tumbuh pada media ini. S. aureus mempunyai koloni hitam sebagai akibat pengendapan hasil reduksi tellurite. Media di sekitar koloni akan berubah menjadi kuning akibat fermentasi mannitol.  Adanya lithium chloride: sangat bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan bakteri laintermasuk E. coli. Namun demikian media ini kurang mampu memilah S. aureus karena semua koagulase positip dapat tumbuh termasuk S. epidermidis dan Proteus.
-          Cetrimide Agar
Cetrimide Agar biasanya digunakan untuk isolasi Pseudomonas. Kandungan cetrimide yang merupakan quarternary ammonium merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lan, karena menyebabkan kebocoran unsur-unsur didalam sel, namun tidak terjadi pada Pseudomonas.
Pada media cetrimide konvensional beberapa bakteri dapat tumbuh seperti Klebsiella, proteus dan Providencia.Untuk menghambat pertumbuhan mereka dapat ditambahkan cetrimide. Pada media ini, P. aeruginosa dapat dibantu dengan menggunakan media Pseudomonas Selective Medium yang mengandung Nalidixi acid untuk menghambat pertumbunan bakteri lain.

-          Triple Sugar Iron Agar
Media ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam memfermentasikan karbohidrat berdasarkan panjang rantai karbon. TSI terdiri dari laktosa 1 %, sukrosa 1%, dan glukosa 0,1 %, kemampuan bakteri dalam menghasilkan H2S dengan adanya presipitat kehitaman pada media dan kemampuan bakteri dalam menghasilkan gas dengan indikasi media terangkat atau pecah.
Media yang digunakan adalah TSIA (Triple Sugar Iron Agar).Terutama digunakan untuk identifikasi bakteri gram negative.Media ini mengandung 3 macam gula yaitu glukosa, laktosa dan sukrosa, indicator merah fenol dan FeSO4 untuk memperlhatkan pembentukan H2S yangditunjukan dengan adanya endapan hitam. Konentrasi glukosa adalah 0,1 dari konsentrasi laktosa aatau sukrosa agar fermentasi glukosa dapatterlihatreaksi dilihat setelah 24-4 8 jam.

 III.            ALAT DAN BAHAN
·         Alat
-          Tabung reaksi steril
-          Rak tabung reaksi
-          Pinset steril
-          Ose bundar dan ose lurus
-          Pipet ukur 5 mL dan 10 mL
-          Bunsen
-          Papan pembentuk agar miring
-          Inkubator 37oC

·         Bahan
-          Suspensi bakteri (Staphylococcus aureus, pseudomonas aeruginosa, Escherechia coli)
-          Potarium tolurite
-          Media MCA, CA, VJA, Simmon Sitrat dan TSIA

 IV.            CARA KERJA
·         Pembuatan Plat Agar dengan Media Mac Conkey Agar (MCA)
·         Pembuatan Plat Agar dengan Media Vogel Jonson Agar (VJA)
·         Pembuatan Plat Agar dengan Media Cetrimide Agar (CA)
·         Pembuatan Agar Miring dengan Media Simmon Sitrat
·         Pembuatan Agar Miring dengan Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA)
·         Inokulasi pada Plat Agar MCA
-          Bakteri Staphylococcus Aureus
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar MCA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Pseudomonas Aeruginosa
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar MCA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Escherichia Coli
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar MCA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)

·         Inokulasi pada Plat Agar VJA
-          Bakteri Staphylococcus Aureus
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar VJA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)

-          Bakteri Pseudomonas Aeruginosa
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar VJA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Escherichia Coli
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar VJA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)

·         Inokulasi pada Plat Agar CA
-          Bakteri Staphylococcus Aureus
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar CA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Pseudomonas Aeruginosa
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar CA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Escherichia Coli
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar CA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)

·         Inokulasi pada Agar Miring Simmon Sitrat
-          Bakteri Staphylococcus Aureus
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Agar Miring Simmon Sitrat
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Pseudomonas Aeruginosa
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media AgarMiring Simmon Sitrat
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Escherichia Coli
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Agar Miring Simmon Sitrat
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)


·         Inokulasi pada Agar Miring TSIA
-          Bakteri Staphylococcus Aureus
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar TSIA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)

-          Bakteri Pseudomonas Aeruginosa
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar TSIA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)
-          Bakteri Escherichia Coli
ü  Bakteri diambil dari tabung reaksi yang berisi bakteri tersebut dengan jarum ose yang sudah dilambir di atas Bunsen
ü  Dilakukan inokulasi bakteri dengan jarum ose yang di goreskan pada permukaan media Plat Agar TSIA
ü  Diinkubasi di incubator 37oC selama 2 x 24 jam ( 2x pengamatan)







    V.            DATA PENGAMATAN


































































































 VI.            PEMBAHASAN
Mac Conkey agar adalah medium kultur yang dirancang untuk tumbuh bakteri gram negatif dan noda mereka untuk fermentasi laktosa. Dalam media ini Enterobacteriaceae dan bakteri gram negatif dan membedakan mereka ke dalam fermentor laktosa dan non-laktosa fermentor. Kehadiran garam empedu dan kristal ungu akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme gram positif. Penggabungan laktosa berfungsi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat.Gram-negatif yang menghasilkan laktosa fermentsi merah tua menjadi merah muda koloni.
Media MacConkey Agar ini bermanfaat sekali dalam memilah E. coli dari mikroba lain terutama S. aureus, dan P. aeruginosa. Adanya Oxgall dalam media berperanan dalam menghambat bakteri gram positif lain seperti S. aureus. Kandungan laktosa sangat penting untuk memilah E. coli dari mikroba lain yang tidak memfermentasi laktosa, terutama P.aeruginosa dan Salmonella. Fermentasi laktosa oleh E. coli menyebabkan pH turun. Kondisi asam akan menyebabkan bromo cresol purple (media berwarna ungu) berubah menjadi kuning (media berwarna kuning) dan adanya pembentukan gas yang dapat diamati pada tabung durham. Sedangkan P. aeruginosa tidak dapat mengubah warna media karena tidak memfermentasi laktosa, sedangkan mikroba lain yang mampu memfermetasi laktosa dan mempunyai ekspresi pada media seperti E. coli adalah Enterobacter aerogenes. E. coli mempunyai reaksi positif. Dengan sifat tersebut media ini sangat baik untuk memilah E. coli dari mikroba lain pada tahap awal terutama P. aeruginosa, dan S. aureus.
P. aeruginosa mempunyai karakteristik berbentuk batang, gram negatif, tidak mampu memfermentasi tetapi dapat mengoksidasi glukosa/karbohidrat lain, aerob, katalase positip, oksidase positip dan tidak berspora.Ia dapat tumbuh di air suling dan akan tumbuh dengan baik dengan adanya unsur Nitrogen dan Carbon. Mereka banyak dijumpai melimpah dalam air dan tanah.
Cetrimide Agar Medium biasanya digunakan untuk isolasi Pseudomonas. Kandungan cetrimide yang merupakan quarternary ammonium merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lan, karena menyebabkan kebocoran unsur-unsur didalam sel, namun tidak terjadi pada Pseudomonas. Pada media cetrimide konvensional beberapa bakteri dapat tumbuh seperti Klebsiella, Proteus dan Providencia.Untuk menghambat pertumbuhan mereka dapat ditambahkan cetrimide. Pada media ini, P. aeruginosa dapat dibantu dengan menggunakan media Pseudomonas Selective Medium yang mengandung Nalidixi acid untuk menghambat pertumbunan bakteri lain.Sehingga bakteri yang diisolasi adalah Pseudomonas.Namun, pada praktikum kali ini Cetrimide Agar Medium tidak terbentuk koloni Pseudomonas. Ditemukannya bakteri lain yang dianggap pengotor. Pengotor (bakteri lain) ini tumbuh dikarenakan teknik inokulasi yang yang aseptis. Teknis aseptis sangat diperlukan pada saat memindahkan biakan dari suatu tempat ketempat lainnya.Penggunaan teknik aseptis mencegah terjadinya kontaminasi dengan biakan yang mungkin bersifat patogen.Teknik kerja aseptis, teknik dekontaminasi, serta penyelesaian pekerjaan secara cepat dan efisien perlu dipahami untuk menunjang pekerjaan yang berkaitan dengan mikroorganisme.Semua pekerjaan pada praktikum ini dilakukan dengan memperhatikan prosedur aseptik.
Vogel Johnson Agar mengandung mannitol, tellurite dan lithium chloride yang berperan untuk mengisolasi bakteri yang bersifat koagulase positip, karena semua yang bersifat koagulase positip akan tumbuh pada media ini. S. aureus mempunyai koloni hitam sebagai akibat pengendapan hasil reduksi tellurite. Media di sekitar koloni akan berubah menjadi kuning akibat fermentasi mannitol.  Adanya lithium chloride: sangat bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan bakteri lain termasuk E. coli. Namun demikian media ini kurang mampu memilah S. aureus karena semua koagulase positip dapat tumbuh termasuk S. epidermidis dan Proteus.Pada percobaan kali ini, S. aureus tidak tumbuh dikarenakan salah satu faktor, yaitu media pertumbuhan yang sangat tipis.Saat pembuatan media (plat agar pada VJA), didapatkan plat agar yang sangat tipis (lihat data pengamatan.
Triple Sugar Iron Agar, biasanya digunakan untuk konfirmasi pengujian E. coli dan dapat digunakan untuk identifikasi bakteri gram negatif yang memfermentasi dekstrosa/laktosa/sukrosa dan produksi H2S. Dari fungsi tersebut media ini dapat diusulkan untuk konfirmasi dan memilahkan dari Pseudomonas yang tumbuh pada media lain BSA dan BGA. Terjadinya fermentasi dekstrosa oleh Pseudomonas akan menurunkan pH menjadi asam. Kondisi ini akan menyebabkan perubahan phenol red (media merah) menjadi kuning. Sedangkan pseudomonas karena tidak mampu memfermentasi dekstrosa, maka media akan tetap berwarna merah. Dengan demikian media ini dapat dengan mudah memilah Pseudomonas

VII.            KESIMPULAN
·         Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan.
·         Prinsip dari isolasi mikroba adalah
memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuranbermacam-macam mikroba.
·         Kesimpulan dari data pengamatan praktikum pada setiap media ;
No.
Bakteri
Media Pertumbuhan
MCA
VJA
CA
SS
TSIA
1.
Staphilococcus aureus
Tidak tumbuh bakteri
Tumbuh bakteri
Tumbuh bakteri
Tumbuhbakteri
Tumbuh bakteri
2.
Pseudomonas aeruginosa
Tidak Tumbuh bakteri
Tumbuh bakteri
Tumbuhbakteri
Tumbuh bakteri
Tidak tumbuh bakteri
3.
Escherichia colli
Tumbuh bakteri
Tumbuh bakteri
Tumbuh bakteri
Tumbuh
Tumbuh



VIII.            DAFTAR PUSTAKA
·    Luis M. De LA Maza; Pezzlo, Marie T.; Janet T. Shigei; Peterson, Ellena M. (2004) Bakteriologi Warna. Atlas Kedokteran. Washington, DC: ASM Press. 103 hlm. ISBN 1-55581-206-6 .
·  Gram, HC (1884). "Über die isolierte Färbung der Schizomyceten in Schnitt- und Trockenpräparaten". Fortschritte der Medizin 2: 185-89.
·         Bergey, David H.; John G. Holt; Noel R. Krieg; Peter H.A. Sneath (1994). Bergey's Manual of Determinative Bacteriology (edisi ke-9th ed.). Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 0-683-00603-7.
·         Madigan, MT; Martinko J; Parker J (2004). Brock Biology of Microorganisms (edisi ke-10th Edition). Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 0-13-066271-2.

[Disusun Oleh Mahasiswa Unisba]